Playing Victim – Playing victim merupakan istilah yang tidak asing dalam lingkup sosial. Istilah ini merujuk pada karakter atau seseorang yang gemar berperan sebagai korban dengan melemparkan kesalahan pada orang lain. Meskipun tampak sepele, tindakan ini dapat merugikan orang lain dan membuat korbannya merasa bersalah. Bahkan, tak jarang korban mengalami gangguan psikologis akibat tuduhan tak berdasar tersebut.

Baca juga: Mengenal Definisi, Jenis, Ciri-Ciri Manipulasi dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Playing Victim?

Lantas, apa itu playing victim? Playing victim dikenal dengan istilah victim mentality. Tindakan ini dilakukan seseorang yang menghindari tanggung jawab setelah melakukan kesalahan. Lantaran tak ingin disalahkan atau menerima hukuman, pelaku akan menuduh orang yang bersalah. 

Singkatnya, pelaku playing victim kerap mencari orang lain sebagai “kambing hitam” atas kesalahan yang dilakukannya. Bahkan, pelakunya memosisikan diri sebagai korban ketidakadilan. Playing victim seringkali dijumpai dalam hubungan keluarga, pernikahan, percintaan, lingkungan kantor, hingga pertemanan. 

Tanda Perilaku Playing Victim

Setelah memahami penjelasan mengenai arti playing victim, berikut sejumlah tanda perilaku victim mentality.

  • Menghindari Tanggung Jawab – pelaku cenderung sulit diberi kepercayaan dan tanggung jawab. Ketika melakukan kesalahan, pelaku akan mencari orang lain untuk disalahkan dan menanggung hukuman.
  • Membandingkan Diri – pelaku cenderung memiliki kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Ketika orang lain lebih baik darinya, ia akan merasa iri. Akibat rasa iri tersebut, pelaku akan tumbuh menjadi pribadi yang pesimis dan mudah menyalahkan orang lain. 
  • Selalu Merasa Tak Berdaya – pelaku cenderung merasa dirinya lemah tak berdaya. Alhasil ia akan selalu bertindak layaknya korban, sekalipun ia berbuat kesalahan.
  • Senang Menyalahkan – pelaku suka menyalahkan orang lain atas kesalahan mereka sendiri maupun kesalahan yang diperbuat olehnya. Pelaku juga gemar membocorkan dan menyebarluaskan kesalahan orang lain. Tujuannya agar namanya tetap bersih sehingga citra dirinya di mata orang lain sempurna tanpa cela. Ketika orang lain mengetahui kesalahannya, pelaku akan meminta orang tersebut melupakan dan tidak mengungkitnya lagi.
  • Pandai Berbicara – pelaku playing victim sangat lihai bermain kata. Mereka cenderung berkata manis dan mampu meyakinkan orang lain dengan ucapannya. Umumnya, pelaku lebih suka bermain aman dengan berbicara empat mata pada orang lain yang dianggap dapat dijadikan saksi penguat. Hal ini dilakukan agar dirinya tidak terlihat sebagai pelaku, melainkan korban.
  • Merasa Paling Dirugikan – pelaku kerap merasa sebagai pihak yang paling dirugikan. Alhasil, ia akan selalu mengelak dengan membeberkan fakta palsu untuk membuat orang lain percaya dirinyalah yang dirugikan. 

Penyebab dan Cara Mengatasi Perilaku Playing Victim 

Sebagian kasus playing victim dilakukan oleh orang yang merasa putus asa dan memiliki latar belakang maupun pengalaman buruk di masa lalu. Beberapa penyebab umum yang mendorong orang melakukan victim mentality, antara lain:

  • Trauma – peristiwa di masa lalu yang menyisakan trauma mendalam dapat mendorong munculnya perilaku playing victim. Rasa sakit yang pernah dirasakannya membuat ia memilih menyerah dan tak berdaya secara emosional. Alhasil, ia selalu merasa dirinya paling lemah dan terluka.
  • Mencari Keuntungan – tak sedikit pelaku bertindak sebagai korban untuk mendapatkan keuntungan, seperti terhindar dari hukuman ataupun kemarahan, menikmati berperan sebagai orang tersakiti, lepas dari tanggung jawab, dan membuat orang lain mengasihaninya. Beberapa pelaku kerap menggunakan cara ini untuk mendapatkan materi, mendominasi dalam suatu hubungan, serta menekan pasangan dan membuatnya merasa bersalah.
  • Menjadi Korban Pengkhianatan – pelaku yang pernah mengalami kejadian buruk, seperti dibohongi dan dikhianati berulang kali cenderung menganggap dirinya sebagai korban.

Berhadapan dengan pelaku playing victim dapat tantangan tersendiri. Pasalnya, kamu harus mengetahui cara memperlakukan mereka dengan baik tanpa memojokkan dan menghakimi. Beberapa cara terbaik untuk mengatasi playing victim, antara lain:

  • Tidak Terpancing – sangat penting mengatur emosi agar kamu tak terpancing “drama” yang dibuat oleh pelaku. Batasi interaksi dengan pelaku supaya risiko dijadikan “kambing hitam” makin kecil. Apabila kamu dijadikan target, hadapi skenario drama yang dibuat pelaku dengan tenang dan tampak biasa. 
  • Memberikan Solusi – alih-alih terpancing emosi atau merasa frustrasi, lebih baik kamu memberikan solusi alternatif agar masalah yang dihadapinya cepat teratasi. Biasanya pelaku playing victim sulit dan hampir tidak mau mendengarkan orang lain. Kamu harus mencari cara atau menggunakan kata-kata yang mendorong rasa keingintahuannya.
  • Hindari Berdebat – daripada menghabiskan waktu dengan berdebat, lebih baik kamu bersikap masa bodoh. Mengingat kebanyakan pelaku sangat pandai berkata-kata, berdebat hanya akan membuat ia merasa senang dan menganggap kamu telah masuk ke perangkap yang dibuat. 
  • Beritahu Ketidaksukaan – pelaku playing victim sangat enggan disalahkan. Namun, ketika ia telah melakukan tindakan yang salah dan merugikan orang lain, jadilah pemberani. Katakan dengan jujur dan tegas mengenai sikapnya yang mengganggu kenyamanan orang lain. Bersikaplah cuek ketika ia mulai mengeluarkan jurus layaknya korban. 
  • Mengontrol Jarak – ketika berada di lingkungan kerja atau keluarga, kamu sulit untuk menghindar dari pelaku playing victim. Namun, kamu bisa mengontrol jarak dengan mengurangi intensitas interaksi. 
  • Mencari Tahu Motif dan Alasan – menggali tujuan pelaku memang tak mudah. Namun, kamu bisa melakukannya dengan berperan sebagai pendukungnya. Ketika ia telah menaruh sedikit rasa percaya, ia bisa saja membeberkan motif dan alasan di balik tindakannya. Setelahnya kamu bisa memberi masukan supaya ia menemukan solusi terbaik dengan berkonsultasi ke psikolog atau psikiater untuk kasus yang lebih berat.

Baca juga: Sosiopat: Definisi, Karakteristik, dan Sifat

Kalau kamu tertarik untuk mengetahui lebih lanjut topik soal psikologi dan kepribadian yang sering kita temukan di kehidupan sehari hari, cek podcast Suara Hati Manusia di Noice. Masih banyak juga podcast yang bisa kamu temukan seputar kesehatan mental dan psikologi lainnya di web player Noice.

Untuk pengalaman mendengarkan yang lebih seamless, kamu juga bisa mengunduh aplikasi Noice di Google Play atau App Store. Nah, apa lagi yang kamu tunggu? Ayo, instal Noice sekarang juga!

Podcast Tsama Dengan

Tsamara Amany